Catatan Jam 1 Pagi

Ilustrasi Fay sedang duduk di kasur kamar kos sambil menulis jurnal dengan ekspresi gelisah di jam 1 pagi

Jam 1 pagi. Gue baru kebangun. Rasanya bukan kayak bangun dari tidur, tapi lebih kayak diseret keluar dari mimpi yang nggak selesai. Mata masih berat, tapi kepala udah rame. Bukan suara orang, tapi suara-suara kecil yang cuma gue yang bisa denger: pertanyaan-pertanyaan yang nggak penting tapi ngotot pengen dijawab.

Kenapa gue masih ngerasa kayak gini? Padahal tadi malam sempat ngerasa tenang. Udah journaling, udah nyalain lilin aroma lavender, udah dengerin playlist hujan. Tapi tetep aja, tengah malam gini gue kebangun kayak ada alarm di dalam dada.

Gue duduk di kasur, senderan ke tembok. Bantal gue tarik ke pangkuan, biar ada sesuatu yang bisa dipeluk. Kamar ini sepi, cuma lampu kuning kecil di pojokan yang nyala. Cahaya dari luar cuma samar-samar, bias dari lampu gang. Dan semuanya… hening. Tapi bukan hening yang damai, lebih ke hening yang bikin lo denger suara detak jam dinding kayak dentuman.

Kadang gue mikir, apa semua orang punya momen kayak gini? Bangun di jam aneh, terus mikir hal-hal yang nggak ada jawabannya. Kayak: “Kenapa gue ngerasa belum cukup?” atau “Apa iya semua usaha gue hari ini berarti?” Atau yang paling random: “Kalau gue hilang sekarang, siapa yang sadar duluan?”

Gue tau, ini jam-jam rentan. Bukan cuma buat gue, tapi buat banyak orang yang juga tidur di kamar kecil, dengan mimpi besar yang nggak tau harus mulai dari mana. Kadang yang kita butuh bukan jawaban, tapi validasi kalau rasa kayak gini tuh wajar. Kalau kosong itu bukan berarti salah. Kalau bangun tengah malam tuh nggak selalu karena salah makan atau insomnia… tapi mungkin karena hati lo lagi butuh tempat buat napas.

Gue buka jendela sedikit. Udara masuk pelan, dingin tapi nggak galak. Jakarta lagi kalem malam ini. Nggak ada suara motor, nggak ada orang ribut dari gang sebelah. Kayaknya kota juga lagi pengen istirahat.

Dan gue nulis ini… bukan buat siapa-siapa. Bahkan mungkin bukan buat lo yang baca. Tapi buat gue yang lagi duduk di kasur ini, bingung harus ngapain sama rasa yang numpuk tapi nggak punya bentuk. Gue nulis ini supaya gue tau, kalau gue masih di sini. Masih ada. Masih bisa ngerasain sesuatu, meskipun itu cuma kegelisahan yang tipis-tipis.

Kadang kita terlalu keras sama diri sendiri. Nyuruh bangun pagi, produktif, bermanfaat, nggak boleh lemah. Tapi kita lupa, kalau kita juga manusia. Yang kadang bangun jam 1 pagi cuma buat duduk diam, mikir hal-hal kecil yang sebenernya nggak penting, tapi terasa berat banget.

Kalau lo juga lagi bangun di jam segini, lagi baca ini sambil tiduran atau duduk di lantai dingin… gue cuma pengen bilang: lo nggak sendiri. Bahkan kalau kamar lo sepi, bahkan kalau nggak ada notifikasi masuk… lo tetap ada. Dan itu cukup buat malam ini.

Karena kadang, hal paling berani yang bisa kita lakuin… adalah tetap bangun, meski nggak tau harus kemana.

Bagikan:

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *