Waktu Kayak Berhenti

Ilustrasi cewek muda duduk termenung di kasur kos, mengenakan tank top hitam, memandang ke luar jendela dengan ekspresi kosong dan suasana kamar redup yang sunyi

Pernah nggak sih ngerasa waktu tuh kayak berhenti?
Kayak… detik nggak berdetak, jam nggak muter, dan hidup kayak ngegantung di antara satu tarikan napas yang terlalu panjang buat dikelarin.

Gue pernah.
Sering malah.
Dan biasanya itu terjadi bukan pas lagi bahagia, tapi justru ketika semuanya kosong. Ketika dunia luar jalan terus tapi hati lo stuck di tempat yang sama. Lo berdiri di tengah kos, lampu kamar kuning redup, suara kipas angin muter pelan… dan nggak ada yang bener-bener hidup di dalam diri lo.

Kayak kemarin malam.
Jam 2 pagi. Gue masih duduk di lantai, punggung nyender ke kasur, kaki dilipat asal, dan laptop udah mati dari sejam yang lalu. Playlist jazz instrumental yang gue putar juga udah kelar. Tapi gue masih di situ. Kayak belum siap ninggalin hari yang juga… nggak ngasih apa-apa.

Aneh banget sih, kadang hidup bisa ngerasa berat banget, padahal nggak ada satu pun hal konkret yang lagi terjadi. Nggak ada konflik. Nggak ada tekanan. Nggak ada siapa-siapa juga. Tapi kepala lo penuh. Sama pikiran absurd yang datang dan pergi tanpa aba-aba.

Kayak:
“Apa kabar ya gue tiga tahun lagi?”
“Masih akan ada yang bertahan sama gue nggak ya?”
“Salah nggak sih kalau gue ngerasa capek terus?”

Tiba-tiba semuanya nyampur. Rasa gagal, rasa takut, rasa jenuh, dan rasa iri yang lo benci tapi susah buat diusir. Lo pengen tidur, tapi juga nggak pengen kehilangan momen ini. Momen absurd tempat lo ngerasa jujur banget sama diri sendiri.

Dan jujur itu kadang bikin sesak.
Tapi juga… bikin hidup terasa nyata.

Gue jadi kepikiran hal-hal kecil yang pernah gue bilang ke diri sendiri:
Kalau capek boleh berhenti bentar.
Kalau kecewa boleh sedih.
Kalau bingung ya diem aja dulu, nggak usah maksa ngerti.

Tapi kenapa ya, makin ke sini, kata-kata itu malah berasa kayak basa-basi?
Bukan karena nggak tulus, tapi karena dunia makin kenceng larinya. Lo berhenti sebentar aja, lo ditinggal.

Padahal gue nggak pengen menang.
Gue cuma pengen bertahan.

Kadang gue nanya ke diri sendiri: kenapa lo nulis?
Dan jawabannya berubah-ubah.
Dulu karena pengen didenger.
Terus karena pengen dipahami.
Lama-lama jadi semacam pelarian.
Dan sekarang, mungkin… nulis itu jadi satu-satunya cara buat ngingetin diri sendiri kalau gue masih ada. Kalau gue belum sepenuhnya ilang.

Karena di dunia nyata, kadang suara kita tenggelam. Nggak kedengeran, bahkan sama diri sendiri.
Dan tulisan ini, mungkin, jadi tempat satu-satunya gue bisa denger diri gue tanpa gangguan.
Tanpa distraksi.
Tanpa harus baik-baik aja.

Gue kangen jadi anak kecil.
Yang nangis bisa langsung dipeluk.
Yang sedih bisa langsung digendong.
Yang takut bisa langsung sembunyi di balik punggung orang dewasa dan semua akan beres.

Tapi sekarang lo harus jadi punggung itu buat diri lo sendiri.
Dan kadang, lo ngerasa tulang lo nggak cukup kuat buat jadi penopang.

Gue nggak nyari solusi malam ini.
Gue cuma pengen nemenin rasa ini sampai dia siap pergi sendiri.
Gue pengen diem aja bareng dia.

Karena nggak semua luka perlu ditambal sekarang juga.
Ada yang cukup dikasih waktu. Ditemani dalam senyap.
Dipeluk pelan-pelan lewat tulisan, lewat napas panjang yang nggak buru-buru diakhiri.

Dan kalau lo juga lagi ngerasa kosong kayak gue malam ini…
Nggak apa-apa.
Kita bisa kosong bareng.
Nggak usah ngomong apa-apa.
Nggak usah buru-buru sembuh.

Kadang waktu emang berhenti.
Bukan buat nyiksa kita.
Tapi buat ngasih ruang.

Biar kita bisa dengerin diri sendiri tanpa suara lain yang lebih keras.
Biar kita bisa bilang, “gue masih ada” tanpa perlu pembuktian ke siapa-siapa.

Biar kita bisa napas.
Nggak harus panjang.
Yang penting pelan.
Yang penting… masih bisa.

Bagikan:

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *