Jam Tidur Gue Kacau, Tapi Bukan Karena Kopi

Ilustrasi Fay insomnia di kamar kos, berbaring di kasur sempit dengan ekspresi capek tapi belum bisa tidur, suasana malam remang dan emosional

Tiap malam, gue selalu bilang ke diri sendiri: “malam ini harus tidur cepet.” Tapi nyatanya? Jam udah nunjuk angka 2, dan mata gue masih kayak kucing yang baru liat kecoa. Kebuka lebar, penuh waspada. Bukan karena gue lagi nunggu kabar dari siapa-siapa. Bukan juga karena gue punya tanggungan tugas atau kerjaan urgent. Gue cuma… nggak bisa tidur. Tanpa alasan yang bisa gue logikakan.

Kayak ada yang nangkring di kepala, duduk diem tapi berat. Gak bersuara, tapi keberadaannya nyisa di badan. Mungkin lo pernah ngerasa gitu juga — capek, tapi nggak bisa tidur. Pengen istirahat, tapi pikiran malah makin liar. Ngebayangin hal-hal random yang sebenernya gak penting-penting amat: ekspresi terakhir orang yang lo temuin tadi siang, notif yang gak sempat lo buka, atau bahkan dialog pura-pura kalau suatu hari lo akhirnya berani ngungkapin semua yang lo simpen.

Gue udah coba berbagai hal. Dari matiin semua lampu dan nyalain aromaterapi, sampe journaling pake pulpen warna-warni biar suasana hati ikut ke-calm. Tapi tetep aja, kepala gue kayak arena konser tengah malam. Penuh suara, penuh lampu, tapi gak ada panggungnya. Hanya keramaian dalam sunyi.

Kadang gue mikir, apa jam biologis gue udah rusak? Atau sebenernya ini bentuk lain dari keresahan yang nggak punya nama? Karena tiap gue rebahan dan mulai tenang, justru muncul semua hal yang gue hindari pas siang.

Gue nggak tau siapa yang pertama kali bilang kalau malam itu waktu paling jujur. Tapi gue ngerti kenapa. Karena malam, apalagi di kamar kos sempit kayak gini, adalah waktu di mana nggak ada yang bisa lo pura-purain. Lo ketemu sama diri lo yang asli. Tanpa makeup, tanpa status, tanpa validasi.

Dan yang paling nyebelin adalah: semua hal yang selama ini bisa gue tekan, munculnya pas gelap. Ketakutan, rasa bersalah, hal-hal yang belum sempat gue obrolin, semua tiba-tiba minta didengerin. Kayak mereka tahu, cuma malam yang cukup hening buat nerima suara mereka.

Pernah suatu malam, gue bengong sambil mandangin langit-langit kamar yang catnya udah mulai ngelupas. Tiba-tiba gue keinget momen kecil waktu SD — guru gue marah karena gue telat ngerjain PR. Gak penting banget, kan? Tapi entah kenapa, malam itu, memori itu berasa penting. Berasa nyentil sesuatu yang lebih dalam: rasa takut dianggap gagal. Rasa malu karena nggak bisa memenuhi ekspektasi. Dan itu, ternyata, masih kebawa sampe sekarang.

Begitu lah, malam-malam gue. Bukannya diisi mimpi, tapi malah dipenuhin sama fragmen-fragmen masa lalu yang belum sempat gue sembuhin.

Dan mungkin itu juga kenapa gue nulis ini. Karena gue tahu, banyak dari kita yang punya pola tidur kayak gini. Yang tidur bukan karena ngantuk, tapi karena akhirnya capek sendiri. Karena mata nggak kuat lagi, bukan karena hati udah tenang.

Gue pengen bilang, kalau lo juga lagi ada di fase ini, lo nggak sendirian. Gue pun masih belajar. Belajar berdamai sama diri sendiri. Belajar bikin malam jadi tempat yang aman, bukan arena balap pikiran.

Kadang, hal sekecil narik napas pelan sambil merem lima detik aja udah cukup buat kasih sinyal ke badan: “lo boleh istirahat sekarang. Nggak harus nyelesaiin semuanya malam ini.”

Jadi, kalau nanti malam lo gelisah lagi, coba dengerin tubuh lo. Bukan buat dicari solusinya, tapi buat dikasih ruang. Mungkin kita nggak harus selalu ngerti semua yang kita rasain. Tapi kita bisa milih buat hadir, buat diem bareng rasa itu, dan bilang: “oke, gue denger.”

Dan kalau besok pagi lo bangun dengan mata sembab, atau kepala berat karena baru tidur jam empat, nggak apa-apa. Serius. Hidup nggak punya aturan skor untuk siapa yang tidurnya paling disiplin. Yang penting, lo masih di sini. Masih nyoba. Masih berani buat buka mata dan hadapin hari baru, walau pelan-pelan.

Itu aja udah cukup keren buat dirayain, menurut gue.

Bagikan:

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *