Gue Sering Scroll HP Tanpa Suara, Tapi Pikiran Tetap Bising

Fay sedang duduk di kamar gelap hanya ditemani cahaya layar HP, wajahnya kosong tapi pikirannya terlihat penuh

Ada momen-momen absurd yang kayaknya nggak bisa dijelasin logika. Salah satunya: ketika lo lagi scroll HP tengah malam, tanpa suara, lampu kamar mati, dan yang kedengeran cuma suara kipas angin muter pelan. Nggak ada notif. Nggak ada suara video. Tapi isi kepala rame kayak pasar malam.

Gue nggak tahu sejak kapan kebiasaan ini jadi rutinitas. Mungkin sejak kepala makin penuh, tapi nggak tahu mesti cerita ke siapa. Atau mungkin karena dunia digital nyediain semacam ruang ngambang, tempat buat ngelupain rasa bingung yang nggak bisa ditulis di notes.

Tiap kali jempol gue gerak di layar, bukan karena nyari info penting. Bukan juga buat ngikutin tren. Kadang ya cuma pengin mengalihkan keheningan. Karena heningnya kamar kos seringkali lebih bising dari suara konser.

Efek scroll tanpa suara yang jarang disadari

Scroll tanpa suara itu kayak silent mode buat batin. Lo keliatannya tenang, tapi sebenernya lagi ribut banget di dalam. Setiap swipe naik-turun di timeline itu kayak napas panik yang ditahan biar nggak kedengeran.

“Lo kenapa diem aja?”
Gue diem, tapi kepala gue lari maraton.

Yang bikin rumit, aktivitas ini kelihatan normal. Orang lain mikir gue lagi santai, padahal gue lagi nyoba ngebunuh waktu sebelum gue kebunuh sama pikiran sendiri. Kadang scroll sampe ketiduran, kadang malah tambah gelisah.

Bahkan ketika HP-nya nggak muter suara apapun, kepala gue muter banyak banget pertanyaan:

  • Kenapa hari ini gue ngerasa kosong?
  • Tadi gue jawab chat orang dengan energi yang nggak gue punya
  • Apa gue lagi baik-baik aja atau cuma keliatan tenang?

Beda antara cari hiburan dan lari dari pikiran

Ada garis tipis antara self-entertainment dan self-distraction. Scroll TikTok bisa jadi hiburan, bisa juga jadi pelarian. Dan pelarian itu nggak selalu buruk, tapi kalau keterusan bisa bikin lo lupa gimana caranya berhenti.

Dulu gue sempet nulis tentang scroll malam yang nggak selalu buat hiburan, dan ternyata kebiasaan gue scroll tanpa suara itu kayak versi lebih halus dari itu. Kayak ghost mode buat pelarian.

Kadang, lo scroll bukan buat nemuin sesuatu. Tapi supaya lo nggak ngerasa sendiri.

“Ada yang nemenin?”
Timeline. Random orang yang nggak gue kenal, tapi bisa bikin gue nggak ngerasa kosong.

Dan ini bukan tentang kontennya. Bahkan video lucu atau aesthetic room tour pun rasanya cuma numpang lewat di mata. Tapi entah kenapa, itu cukup buat bikin gue tetap hidup. At least, malam itu.

Kenapa kita butuh diam-diaman tapi tetap pengin rame?

Ada rasa aman yang aneh di scrolling tanpa suara. Kayak lo lagi di konser tapi pakai earphone noise-canceling. Lo ngeliat keramaian, tapi nggak ikut di dalamnya.

Buat anak kos yang hidup sendirian, ritual kayak gini bisa jadi pelampiasan dari rasa ingin ditemani tanpa harus ngobrol. Lo pengin ada suara, tapi juga pengin sepi. Lo pengin denger kabar, tapi nggak sanggup balesin chat.

Jadi satu-satunya yang bisa lo kendalikan adalah: volume. Dan malam itu, gue pilih matiin semuanya. Kecuali pikiran gue.

Kalau scroll-nya berhenti, apa yang tersisa?

Yang tersisa ya kepala yang masih bising. Kadang malah lebih kenceng dari sebelumnya. Gue pernah coba stop scrolling tiba-tiba, dan rasanya kayak narik rem tangan di tengah turunan.

Sunyi banget. Dan di sunyi itu, muncul hal-hal yang sempat gue kubur di notifikasi:

  • Rasa kangen yang belum sempat gue akui
  • Emosi lama yang belum diberesin
  • Pertanyaan soal arah hidup yang gue pura-pura nggak lihat

“Lo scroll terus, takut apa sih?”
Takut berhenti dan nemuin kenyataan kalau gue nggak setenang yang gue kira.

Scroll itu kayak nyalain lampu neon pas mati listrik. Bikin kita sibuk biar nggak harus merasakan gelap.

Tapi gelapnya tetap ada, nunggu di pojok.

Momen ketika kepala lebih ribut dari layar HP

Yang paling nyebelin dari semuanya adalah saat layar HP udah mati, tapi mata masih terbuka. Bantal dingin. Kipas muter. Tapi isi kepala muter lebih cepet.

Gue pengin tidur. Tapi gue juga pengin mikir. Tapi gue juga capek mikir. Tapi gue juga takut kalau nggak mikir, gue lupa siapa diri gue sebenernya.

Ada malam-malam ketika lo ngerasa lo satu-satunya orang di dunia yang nggak bisa diem. Semua orang tidur. Tapi lo masih bangun, masih scroll, masih mikir.

Dan mungkin, itu bukan karena lo lemah. Tapi karena lo lagi berusaha hadir buat diri lo sendiri. Meskipun caranya nggak ideal.

“Kenapa lo scroll HP malam-malam tanpa suara?”
Karena itu satu-satunya suara yang bisa gue kontrol.

Dan malam itu, meskipun nggak ada musik, nggak ada video, nggak ada tawa, gue tetap stay. Bareng pikiran gue sendiri.

Dan itu cukup.

Untuk malam ini, itu cukup.

Bagikan:

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *