Rasa Takut yang Datang Tanpa Ancaman, Tapi Tetap Bikin Sesak

Ilustrasi Fay sedang duduk menulis di meja kos dengan ekspresi reflektif, suasana kamar tenang dan hangat

Kadang yang paling nyebelin itu bukan hal-hal gede yang jelas bentuknya, tapi perasaan-perasaan kecil yang diam-diam nyelusup tanpa permisi. Kayak rasa takut, tapi lo nggak tahu lo takut sama apa. Kayak ada yang neken dada lo, tapi nggak ada sesuatu yang spesifik buat dijadiin alasan. Kayak… lo cuma bangun pagi, terus ngerasa kosong. Nggak sedih, nggak seneng. Cuma ada rasa kayak “gue nggak pengen apa-apa” tapi juga nggak bisa diem.

Pagi itu, gue duduk di lantai kamar, senderan ke tembok. Lampu belum dinyalain, cahaya dari tirai tipis bikin ruangan keliatan abu-abu. AC masih nyala, tapi kepala gue gerah. Kayak overheat. Gue nggak lagi mikirin apa-apa, tapi juga nggak bisa mikir. HP di sebelah gue diem. Nggak ada notifikasi, nggak ada chat. Tapi tetap gue ambil, gue scroll-scroll, padahal jempol gue juga kayak nggak punya tujuan.

Gue ngerasa kayak tubuh gue ada di sini, tapi otaknya belum login. Kayak buka Google Chrome tapi semua tab-nya error. Kosong tapi berat. Diam tapi bising.

Rasa takut ini aneh, karena dia nggak punya wujud. Bukan takut ditinggal, bukan takut gagal, bukan juga takut sendirian. Tapi takut aja. Takut sesuatu yang belum kejadian. Takut hal-hal yang nggak bisa gue prediksi. Takut bangun tiap hari dan ngerasa kayak nggak punya kendali atas apa-apa.

Dan lebih parahnya, rasa itu nggak selalu datang di momen besar. Kadang justru muncul pas lo lagi duduk biasa aja, lagi buka pintu kamar, atau pas ngaca dan liat wajah lo sendiri. Seolah ada suara kecil di kepala yang bilang, “hari ini juga kayaknya nggak akan ada yang berubah.”

Gue nggak tahu ini namanya apa. Bukan cemas yang heboh. Bukan panik. Tapi semacam kekosongan yang punya suara. Kayak ada gema pelan yang muter-muter di kepala lo, bilangin hal-hal yang nggak lo pengen denger. Bukan karena itu suara orang lain, tapi justru karena itu suara lo sendiri.

Gue coba tarik napas. Dalam. Terus pelan-pelan gue tiupin. Nggak ada yang berubah. Tapi gue ulangin lagi. Dan lagi. Dan entah kenapa, walau rasanya masih sama, ada bagian kecil dari diri gue yang mulai bisa nafas.

Gue nulis ini bukan karena gue punya jawabannya. Tapi karena gue pengen nyimpen perasaan ini di tempat yang bisa gue lihat nanti, saat rasanya udah lewat. Buat ngingetin kalau rasa takut tanpa ancaman itu valid. Kalau kekosongan yang nggak bisa dijelasin juga layak buat dimengerti. Dan kalau lo baca ini dan relate, ya… mungkin lo juga nggak sendirian.

Gue nggak akan kasih solusi di akhir tulisan ini, karena kadang yang kita butuhin bukan solusi, tapi ruang. Ruang buat diem, buat ngerasain, dan buat nggak harus pura-pura baik-baik aja.

Karena ternyata, ada hari-hari yang bentuk healing-nya bukan dengan jadi kuat, tapi dengan duduk aja, sambil bilang ke diri sendiri: “nggak apa-apa, gue di sini kok.”

Dan itu cukup.Rasa Takut yang Datang Tanpa Ancaman, Tapi Tetap Bikin Sesak

Bagikan:

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *